PT.SolidGoldSemarang~Pendiri konglomerasi multinasional Rothschild, NM Rothschild, pernah menyiratkan bahwa tak seorang pun bisa memahami harga Emas. Mantan Gubernur The Fed, Ben Bernanke, pun pernah menyuarakan pendapat yang sama. Namun kini, banyak orang mengabaikan pendapat mereka dan setiap hari berusaha menebak arah pergerakan harga Emas. Tahun ini, orang-orang itu telah dikejutkan oleh pergerakan harga Emas yang asalnya diperkirakan akan semakin anjlok, ternyata malah menampilkan performa lebih baik ketimbang aset investasi lain.

Apa sebenarnya yang menentukan pergerakan harga Emas di masa depan? Berikut ini tujuh faktor kunci yang “katanya” menggerakkan harga logam mulia ini, dan seberapa penting faktor tersebut secara historis.

1. Inflasi

Harga Emas naik 18 kali lipat di tahun 70an saat inflasiĀ  melesat ke puncak tertinggi yang pernah dialami di masa damai tanpa perang. Dalam dua puluh tahun berikutnya, walaupun inflasi merosot, tetapi harga Emas terus meningkat. Studi mengenai korelasi 12-bulanan antara harga Emas dan indeks IHK Amerika Serikat dalam 45 tahun terakhir menunjukkan angka 0, yang berarti bahwa: tidak ada hubungan antara harga Emas dan inflasi.

2. Tingkat Suku Bunga

Karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil dalam bentuk bunga, maka siapapun yang membelinya “kehilangan” pendapatan bunga yang mungkin akan didapat kalau uangnya didepositokan. Hal ini disebut sebagai “opportunity cost” dari memiliki logam mulia, dan “opportunity” cost” ini jumlahnya semakin besar ketika suku bunga tinggi.

Namun, walau suku bunga tinggi membuat Emas jadi tidak menarik, sebenarnya tidak ada hubungan yang jelas antara harga Emas dan suku bunga. Fakta sejarah menunjukkan bahwa harga Emas dan suku bunga bergerak ke arah berlawanan hanya kadang-kadang; keduanya malah lebih sering naik atau turun bersamaan.

3. Pasar Saham

Sebagaimana hubungannya dengan tingkat suku bunga, harga Emas juga hanya kadang-kadang saja bergerak ke arah yang berlawanan dengan pasar saham. Studi akan korelasi 12-bulanan antara harga Emas dan indeks S&P 500 selama 45 tahun terakhir menghasilkan angka rata-rata 0, yang lagi-lagi berarti: tidak ada hubungan antara harga Emas dan Pasar Saham.

Mengapa begitu? karena banyak investor memanfaatkan bahan baku industri perhiasan ini sebagai pelengkap portofolio investasi mereka. Investor tentunya menginginkan portofolio investasi yang berimbang, dimana faktor risk/reward-nya terjaga. Oleh karena itu, mereka akan cenderung mempertahankan berbagai aset berbeda dalam portofolio-nya dalam waktu bersamaan.

4. Konflik Geopolitik

Harga Emas terkenal meroket ke $850 pada tahun 1980 saat Uni Soviet menginvasi Afghanistan, dan di saat yang bersamaan terjadi krisis penyanderaan di Kedubes AS di Tehran, Iran. Kenaikan harga Emas ke $1,920 pada tahun 2011 terjadi saat sejumlah konflik geopolitik mewarnai Dunia. Konflik-konflik tahun 2011 itu diantaranya adalah beberapa revolusi Arab Spring berubah menjadi perang saudara, kejatuhan ekonomi Yunani, dan terjadi kerusuhan parah di Inggris.

Kerusuhan di London, Inggris, Pada 2011
Namun walau para spekulator yang memperdagangkan derivatif Emas sering mendorong harga Emas naik saat konflik geopolitik terjadi, pergerakan harga yang disebabkan oleh hal-hal seperti itu biasanya hanya sebentar saja. Sebagai contoh, harga Emas naik 12 persen di dua minggu pertama krisis Falkland tahun 1982, tetapi tren harga tetap bearish, dan di bulan berikutnya malah merosot ke titik terendah dalam tiga tahun.

5. Dolar AS

Sebagaimana komoditas hasil tambang lainnya, harga Emas dikutip dalam Dolar AS. Namun itu tidak selalu berarti bahwa kalau Dolar AS melemah, maka harga Emas menguat. Secara historis, kemungkinan hal itu hanya terjadi hanya tercatat sebanyak 60%.

Apalagi, ketika dibandingkan dengan harga Emas dalam mata uang lain, maka pergerakannya akan berbeda. Dalam 27 bulan sejak tahun 2004, misalnya, harga Emas dalam Poundsterling telah naik lebih dari 5 persen; dan selama 21 bulan diantaranya, Dolar AS juga menguat terhadap Pound.

6. Harga Minyak

Karena populernya anggapan yang menghubungkan harga Emas dengan konflik geopolitik, maka banyak yang mengasumsikan bahwa harga Emas dan Minyak bergerak searah di saat yang bersamaan. Ya, memang benar bahwa harga Minyak lebih sering bergerak bersamaan dengan harga Emas daripada Pasar Saham atau Tingkat Suku Bunga. Sejak tahun 1986, dalam 60% kesempatan, harga Emas bergerak bersama harga Minyak.

Namun, ada pengecualian. Saat krisis finansial terjadi, harga Minyak Mentah Dunia merosot 80% pada paruh kedua tahun 2008, sehingga dalam 10 tahun terakhir ini harganya hanya naik 140 persen. Sebaliknya, emas hanya merosot sebentar, lalu langsung meroket lagi, dan tercatat telah naik 235% dalam kurun waktu 10 tahun hingga Juli 2014.

7. Permintaan Pasar Asia

Ketika harga Emas turun 30 persen terhadap semua mata uang Dunia di tahun 2013, masyarakat China menjadi pemborong Emas terbesar di Dunia. Saat harga Emas kembali meningkat di awal tahun 2014, permintaan Emas dari China turun 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Karena itu, harga Emas sering dikatakan naik saat permintaan pasar Asia meningkat. Namun kalau kita cermati lagi, permintaan pasar Asia lebih cenderung mengikuti pergerakan harga, bukan menentukan harga. Buktinya, harga Emas terjun ke level rendah tiga tahun pada musim semi tahun 2013, tepat ketika India mencatat impor Emas terbesarnya, padahal India saat itu adalah sumber permintaan Emas terbesar Dunia (sekarang rekornya dipegang China).

Hal ini karena harga Emas masa kini tidak lagi dikendalikan oleh permintaan Emas fisik. Orang-orang yang menentukan harga Emas justru investor yang menjual aset investasi lain seperti Saham atau Properti, lalu dengan dana yang didapat dari penjualan itu membeli Emas di pasar komoditas berjangka. Faktor itulah yang telah mendorong kenaikan harga emas pada tahun 1970an dan 2000an.

Kalau ketujuh faktor diatas tidak menentukan pergerakan harga Emas, lalu apa yang menentukan? Yang menggerakkan harga Emas adalah kombinasi dari beberapa faktor diatas, bukan hanya salah satu saja.

Selain itu, penurunan atau kenaikan harga Emas dalam jangka panjang cenderung merefleksikan kondisi aset finansial lain yang biasanya lebih menguntungkan. Masyarakat memandang Emas sebagai salah satu bentuk “asuransi”, sedangkan “harga asuransi” adalah paling tinggi saat kita paling membutuhkannya. Artinya, harga Emas akan semakin naik dalam jangka panjang jika prospek aset-aset lain memburuk. Ketika krisis finansial yang lalu mengagetkan pasar finansial, para pemilik Emas dan investasi emas mereka pun aman-aman saja.

Dialihbahasakan dari tulisan Kepala Riset BullionVault, Adrian Ash, di www.telegraph.co.uk

baca Disclaimer