PT.SolidGoldSemarang~ Jakarta, Jelang akhir 2014, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah. Bahkan beberapa waktu lalu dolar AS sempat menyentuh kisaran Rp 12.900, terkuat sejak Agustus 1998.

Pada 2015, riset PT Bank Danamon Tbk (BDMN) menyebutkan nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah. Bank Danamon memperkirakan dolar AS akan bergerak dalam kisaran Rp 12.200-12.350.

“Kami masih mewaspadai dampak kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS. Selain itu, ada kondisi geopolitik yang bisa menekan rupiah seperti krisis di Rusia,” sebut kajian Bank Danamon seperti dikutip Minggu (28/12/2014).

Dua faktor eksternal tersebut akan berdampak pada arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.

“Namun sepanjang 2015, kami masih memperkirakan terjadi net capital inflow (arus modal masuk lebih besar dibandingkan yang keluar),” tulis kajian itu.

Tahun depan, Bank Danamon memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin dari saat ini 7,75%. “Merespons kenaikan suku bunga di AS yang kemungkinan terjadi pada 2015, kami memperkirakan BI akan menaikkan lagi suku bunga acuan,” papar riset itu.

Kenaikan BI Rate, lanjut riset Bank Danamon, tentunya akan memberikan tekanan terhadap rupiah. “Namun kenaikan bunga sepertinya menjadi pilihan terakhir,” ujar riset itu.

Secara umum, tim riset Bank Danamon menilai Indonesia lebih siap menghadapi tekanan. Bank Indonesia (BI) menegaskan selalu ada di pasar untuk menjaga pergerakan rupiah. Selain itu, penerapan lindung nilai (hedging) akan melindungi korporasi dari pergerakan nilai tukar.
(hds/hds)

sumber detik.comĀ 
baca Disclaimer