Bursa saham Asia turun setelah yen naik melampaui 107 dolar, yang membebani prospek pendapatan bagi eksportir Jepang, sedangkan data China menunjukkan kemungkinan adanya sedikit kebutuhan untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Indeks MSCI Asia Pacific turun 1,3 persen menjadi 129,55 pada pukul 16:14 sore di Tokyo. Indeks Topix Jepang jatuh 3 persen setelah yen mencatatkan penguatan terbesar dalam dua hari terhadap greenback sejak krisis keuangan global pada hari Jumat, didorong oleh keputusan bank sentral untuk tidak menambah stimulus. Saham-saham di Filipina turun tajam sejak Februari sebelum dimulainya pemilihan presiden Senin depan, sementara pasar saham China dan Hong Kong di tutup untuk libur nasional.

Dua pasar saham terbesar di Asia, Jepang dan China, berada di antara pemain terburuk di dunia dalam tahun ini karena bank sentral menunjukkan keengganan untuk meningkatkan langkah-langkah dalam mendorong perekonomian. Keputusan Bank Of Japan pada hari Kamis adalah yang pertama di bawah Gubernur Haruhiko Kuroda di mana mayoritas ekonom memperkirakan langkah pelonggaran tidak akan terwujud, sedangkan para ahli strategi sekarang melihat bank sentral China menjaga tingkat suku bunga utamanya tetap sampai kuartal keempat.

Indeks pabrik resmi China, indeks pembelian manufaktur manajer, bertahan di 50,1 pada bulan April, menurut laporan badan statistik negara pada hari Minggu. Itu merupakan bulan kedua berturut-turut indikator berada di atas 50, yang mengindikasikan peningkatan kondisi. Indeks PMI non-manufaktur, yang mengisyaratkan kondisi perusahaan jasa dan konstruksi, sedikit menurun menjadi 53,5 pada bulan lalu setelah menguat tajam pada bulan Maret.(frk)

Sumber: Bloomberg