Saat itu pelajaran tentang sholat di sebuah madrasah ibtidaiyah sedang ujian praktek sholat subuh. Semua ssiswa siswi secara bergiliran harus mempraktekkan sholat subuh beserta doa qunut.

Saat tiba giliran seorang siswa bernama Marno, ia tidak bias melafalkan do’a qunut secara benar. “Marno, kenapa tidak bisa do’a qunut?” tanya guru pengujinya.

“Maaf pak guru, saya belum hafal secara baik,”jawab Marno.

“Lho emangnya tidak belajar menghafalkan padahal ya sering dibaca setiap sholat subuh kan?”tanya pak gurunya lagi.

“Sudah pak, cuma belum semuanya hafal,”kata Marno.

“Berarti selama ini kamu sholat subuh tidak pernah baca do’a qunut ya kok sampai belum hafal!”sahut gurunya.

“Iya pak betul, saya tidak pernah baca qunut. Karena setiap subuh saya berjamaah di musholla dan saya hanya bilang ‘amin-amin’ saja saat imam baca do’a qunut,”jawab Marno memberi argumen dengan polos. Mendengar jawaban Marno, guru penguji tadi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala seraya berucap “Marno, Marno, ada-ada saja alasanmu