SGB LAMPUNG – Mengawali perdagangan forex hari Rabu pada sesi Asia (8/6), terpantau dollar AS masih lemas setelah terjun ke posisi terendah dalam 4 minggu terhadap semua rival utamanya. Pasar masih berspekulasi ekspektasi kenaikan Fed rate menyuramkan oleh data NFP dan juga pernyataan Janet Yellen, dan tidak adanya sinyal kuat yang mendukung pergerakan kurs.

Disisi lain pergerakan kuat rival-rivalnya mendapat dukungan dari fundamental yang cukup kuat seperti kenaikan harga minyak mentah tembus US$50 per barel yang meninggikan kurs komoditas kemarin. Selain itu poundsterling menerima sentimen positif dari dukungan banyak investor yang mendukung tidak terjadinya Brexit.

Untuk kekuatan euro menerima sentimen positif dari data-data ekonomi yang dirilis baik revisi data PDB kuartal pertama 2016 serta data produksi industri Jerman yang melonjak signfikan dari posisi kontraksi bulan sebelumnya.

Dollar sesi Asia terpantau hanya melemah terhadap euro, poundsterling, yen dan swisfranc, terhadap kurs komoditas pagi ini berhasil naik pasca turunnya kembali harga minyak mentah oleh profit taking pasar.

Untuk pergerakan selanjutnya, perdagangan forex dollar AS hari ini secara teknikal berpotensi menguat oleh kemungkinan terjadinya profit taking pada rival-rival utamanya setelah berhasil naik ke posisi yang lumayan. Namun secara fundamental perdagangan hari ini masih sepi akan katalis penggerak yang kuat.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dollar AS terhadap enam mata uang utama perdagangan sesi Amerika pagi ini turun hingga 0,1 persen setelah dibuka pada posisi 93,83 dan bergulir pada posisi 93,72. Perdagangan sebelumnya indeks dollar AS anjlok hingga 0,8 persen.

http://vibiznews.com/2016/06/08/dollar-as-sesi-asia-masih-kuat-meski-profit-taking-ancam-rivalnya/