Jokowi Bingung, Gagas Rektor Asing Malah Dibilang Antek Asing – PT Solid Gold

PT SOLID GOLD LAMPUNG – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung sikap masyarakat yang tak bisa menerima gagasan soal rencana merekrut rektor dari luar negeri atau rektor asing. Jokowi menyatakan baru sekedar melontarkan ide menarik rektor asing, dirinya langsung disebut sebagai antek asing.

Hal itu disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan dalam Pembukaan Forum Titik Temu ‘Kerja Sama Multikultural untuk Persatuan dan Keadilan’, di Hotel Double Tree Hilton, Cikini, Jakarta. Jokowi menuturkan bahwa Indonesia memiliki lebih sekitar 4.700 perguruan tinggi, baik universitas, politeknik, dan akademi.

Ia pun berencana mengangkat rektor asing untuk ditempatkan terlebih dahulu di tiga perguruan tinggi. Namun, gagasan itu langsung dikritik. “Baru bicara seperti itu, sudah langsung (dibilang) Presiden Jokowi antek asing,” kata Jokowi, yang langsung disambut riuh tamu undangan.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno, Istri Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid; Istri Nurcholish Madjid alias Cak Nur, Omie Komariah Madjid; hingga ahli tafsir Muhammad Quraish Shihab.

Jokowi mengatakan kondisi ini berbeda dengan yang diterapkan Uni Emirat Arab (UEA) Menurutnya, UEA bisa maju seperti sekarang ini bukan hanya karena mengandalkan sumber daya alam (SDA), tetapi mereka menekankan prinsip keterbukaan dan toleransi.

Mantan wali kota Solo itu menyebut negara di Timur Tengah itu berani mengundang talenta-talenta berbakat dunia, mulai dari CEO hingga tenaga ahli. Selain itu, UEA juga mengundang rektor dan dosen dari puluhan perguruan tinggi ternama dunia hingga guru.

“Saya tanya hal yang menjadi kunci mereka maju. Tapi ternyata tidak mudah diterapkan di negara kita. Karena hal-hal yang tadi saya sampaikan, antek-antek tadi,” ujarnya. Jokowi menyatakan pentingnya masyarakat bisa menerima kehadiran orang lain untuk mewujudkan kemajemukan.

Menurutnya, tanpa bisa menerima kemajemukan, yakni kehadiran orang dengan latar belakang berbeda, maka masyarakat tersebut akan tertutup dan tidak berkembang. “Mari kita kembalikan lagi ke semangat berdirinya negara ini yaitu Bhineka Tunggal Ika, yang mampu mengelola kemajemukan di internal bangsa kita,” tuturnya. – PT SOLID GOLD

sumber : cnnindonesia