PT.SolidGoldSemarang~ Sikap AS tersebut terungkap dari data Energy Information Administration. Seperti dikutip CNBC, Jumat (12/12/2014), tercatat pada 4 Desember AS menambah suplai minyak mentah sebanyak 380,8 barel menjadi 1,5 juta barel. Hingga saat ini belum terjawab apa tujuan Amerika menaikkan suplai minyak. Hal ini menimbulkan spekulasi adanya permainan terselubung.

Pasalnya, suntikan minyak mentah itu bertolak belakang dengan harapan pelaku industri komoditi. Mereka berharap suplai dapat berkurang, sebab dengan demikian harga akan kembali bangkit setelah jatuh dari harga USD110 menjadi USD60 per barel. Arab Saudi yang menjadi raja minyak dunia, terus didesak untuk mengurangi suplai minyak.

Di sisi lain, perusahaan minyak AS seperti ConocoPhillips dan Chevron, akan mengurangi produksi minyak dalam proyek barunya. Namun, pemangkasan itu baru terasa pada semester I-2015. Selain itu, produksi Teluk Meksiko diharapkan meningkat dalam proyek baru. Dalam setahun, ditargetkan meningkat 1,3 juta barel menjadi 1,6 juta barel per hari.

OPEC 2014

Jatuhnya harga minyak sudah menjadi perhatian negara kartel minyak yang tergabung dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries Accounts (OPEC). Pada 27 November, negara-negara OPEC melakukan pertemuan tinggi dengan fokus utama mengenai harga minyak.

Dalam pertemuan tersebut sempat terjadi perbedaan pendapat. Irak dan Venezuela mendesak Arab selaku negara produsen minyak terbesar dunia. Namun, Arab enggan memangkas suplai minyak dan bersikukuh dengan jumlah produksinya.

Saat pertemuan OPEC, Menteri Perminyakan Uni Emirat Arab (UEA) Suhail bin Mohammed al Mazroui mengatakan bahwa situasi ini bukan krisis yang mengharuskan negara OPEC panik. Namun, pergerakan harga sesuai dengan mekanisme pasar. Kelebihan pasokan terjadi karena adanya evolusi produksi minyak konvensional.
(rhs)

baca Disclaimer