SGB LAMPUNG – Harga minyak mentah anjlok lebih dari 1 persen pada akhir perdaganga akhir pekan pada hari Jumat, setelah data mingguan menunjukkan pengebor AS menambahkan kilang minyak untuk kedua kalinya tahun ini.

Pengebor menambahkan 9 kilang minyak di minggu hingga 3 Juni, kata Baker Hughes. Laporan ini menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa pengebor shale AS akan membuka kembali produksi karena harga berada di kisaran $ 50 per barel.

Harga sudah turun pada awal perdagangan di tengah kekhawatiran tentang ekonomi AS, namun kerugian terbatas oleh melemahnya dolar, yang membuat minyak lebih murah untuk pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. Laporan Baker Hughes membuat harga turun tajam.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) berakhir 55 sen lebih rendah, atau 1,1 persen, pada $ 48,62 per barel. Dalam pekan ini harga minyak mentah telah turun -1,44 persen.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka Brent turun 30 sen menjadi $ 49,74 per barel, tapi masih hampir dua kali lipat terendah Januari dan di jalur untuk kenaikan mingguan kedelapan dalam sembilan minggu.

Pedagang minyak mentah melihat jatuhnya produksi AS sebagai kunci untuk mengurangi banjir global minyak mentah yang telah menekan harga selama kemerosotan tajam dua tahun.

Harga minyak mentah telah rally dari posisi terendah musim dingin terutama disebabkan oleh gangguan pasokan, terutama di Nigeria, Venezuela, Libya dan Kanada. Pada hari Jumat, militan di wilayah Niger Delta yang menghasilkan lebih dari setengah dari minyak Nigeria mengklaim tiga serangan baru terhadap infrastruktur minyak, menjanjikan untuk membawa produksi minyak negara untuk “nol.”

Namun, berita bahwa ExxonMobil mengangkat ekspor minyak mentah Qua Iboe Nigeria, melihat kemungkinan untuk membawa minyak mentah kembali ke pasar.

Sekalipun pertemuan di Wina pada Kamis untuk Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) gagal mencapai kesepakatan pembatasan produks, namun muncul dukungan harga bagi minyak mentah dari perspektif bahwa tidak ada pemain utama (kecuali Iran) mengindikasikan bahwa mereka akan lebih membanjiri pasar minyak dalam waktu dekat.

Data non-farm payroll AS yang lebih lemah dari perkiraan mendukung harga minyak dengan mengirimkan indeks dolar ke level terendah sejak pertengahan Mei. Namun, data yang lemah juga menekan harga minyak dengan meningkatkan kekhawatiran tentang permintaan bensin AS musim panas ini.

Harga minyak mentah diperkirakan bergerak mmenurun dengan sentimen kekenyangan minyak mentah. Namun perlu dicermati pergerakan dollar AS, yang jika menguat dapat menekan harga minyak mentah. Harga akan menembus kisaran Support $ 48,00- $ 47,50, dan jika harga naik akan menembus kisaran Resistance $ 49,00 – $ 49,50.

http://vibiznews.com/2016/06/06/harga-minyak-mentah-akhir-pekan-turun-mingguan-negatif-lebih-1-persen/