PT.SolidGoldSemarang, New York – Harga minyak mentah dunia kembali turun di mana minyak berjangka Brent jatuh mencapai level di bawah US$ 60 per barel dalam lima berturut-turut, sementara minyak mentah AS sedikit lebih tinggi dengan posisi di atas US$ 55 per barel.

Pada awal sesi, harga minyak sempat turun lebih dari US$ 2 per barel dipicu pernyataan produsen minyak utama yang mengatakan mereka tidak terburu-buru untuk memotong produksi dan mengekang banjirnya pasokan.

Melansir laman Reuters, penurunan harga didukung perkiraan penurunan stok minyak mentah AS pekan lalu. Kelompok perdagangan American Petroleum Institute akan merilis data persediaan awalnya. Brent mengupas kerugian karena para pedagang berusaha untuk menjaga nilai kontraknya berakhir bulan depan, mendekati Februari, yang akan menjadi patokan pasar dari Rabu.

Bulan depan Brent menetap naik US$ 1,20, atau hampir 2 persen menjadi US$ 59,86 per barel. Sesi terendah sebesar US$ 58,50 merupakan yang terendah sejak Juli 2009. Kontrak telah kehilangan lebih dari 10 persen dalam lima hari perdagangan.

Bulan depan minyak mentah AS ditutup naik 2 sen menjadi US$ 55,93 per barel. Sesi rendah sebesar US$ 53,60 merupakan yang terendah sejak Mei 2009.

Harga minyak didorong turun di awal perdagangan dipicu upaya gagal Rusia untuk menstabilkan rubel, dan keputusan Rusia, produsen minyak terbesar di dunia untuk tidak memotong produksi minyaknya.

Minyak telah jatuh 50 persen sejak Juni ketika Brent diperdagangkan di atas US$ 115 per barel, dan menuju penurunan tahunan terbesar sejak 2008.

Banyak pedagang dan analis mengatakan pasar mungkin oversold, tetapi mereka tidak dapat memprediksi kapan akan mulai ambil aksi.

“Harga akan … bawah ketika mereka mulai mempengaruhi pasokan. Tidak ada yang dapat memberitahu Anda berapa harganya di tingkat ini,” jelas Carsten Fritsch, Analis Senior Minyak dan Komoditas Frankfurt Commerzbank, mengatakan kepada Reuters.

Commerzbank mengharapkan volatilitas lebih banyak di paruh pertama 2015 sebelum pemulihan selama enam bulan ke depan, katanya. “Kuncinya adalah pasokan non-OPEC, (itu) di mana rebalancing pasar minyak harus datang,” tandas dia.(Nrm)

baca Disclaimer