SGB LAMPUNG – Harga minyak mentah merosot pada akhir perdagangan akhir pekan pada hari Jumat tertekan aksi profit taking nasabah memanfaatkan kenaikan minyak mentah ke tertinggi dalam tujuh bulan, dan beberapa pihak juga kuatir tentang produksi yang lebih dengan harga melayang mendekati US$ 50/barel.

Penguatan Dolar Amerika Serikat juga membebani permintaan minyak dalam denominasi dolar dari pemegang mata uang lainnya. Dolar AS melonjak setelah Ketua Federal Reserve Janet Yellen mengatakan kenaikan suku bunga AS mungkin sesuai dalam beberapa bulan mendatang.

Harga minyak mentah berjangka Amerika berakhir turun 15 sen di $ 49,33/barel, setelah sebelumnya turun\ menjadi $ 49,42/barel setelah menyentuh $ 50,21 pada hari Kamis, tertinggi sejak awal Oktober.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka Brent jatuh 22 sen menjadi $ 49,37/barel, mundur lebih jauh dari sesi sebelumnya $ 50,51 di puncak, tertinggi sejak awal November.

Jumat kemarin, Baker Hughes (perusahaan jasa ladang minyak) melaporkan jumlah kilang minyak yang beroperasi di bidang Amerika turun 2 menjadi 316 pada minggu sebelumnya. Pada saat ini, pengebor memiliki 646 rig minyak yang berpoerasi.

Minggu ini, harga minyak mentah Brent naik 1% dan minyak mentah Amerika naik sekitar 3%, dibantu oleh keuntungan dari awal pekan ini.

Dengan harga akhirnya mencapai $50, baik minyak mentah Brent dan minyak mentah Amerika kemungkinan menghadapi hambatan teknis dalam 3 – 5 minggu ke depan, kata para analis. Produsen dan spekulan juga telah memuat kontrak opsi minyak mentah Amerika untuk melindungi diri dari resiko penurunan.

Harga minyak mentah terangkat mencapai $50 setelah gangguan pasokan dari kebakaran hutan Kanada dan serangan militan di Nigeria membantu memmotong produksi harian global sekitar 4 juta barel.

“Sebagian besar dari pemadaman ini tidak mungkin untuk bertahan,” kata Giovanni Staunovo analis dari UBS, mengantisipasi kembalinya pasokan dari sumber-sumber serta produksi yang lebih tinggi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak.

Dominick Chirichella, partner senior di Institut Manajemen Energi New York, mengatakan produksi minyak mentah Amerika bisa naik sekitar 300.000 hingga 400.000 barel per hari dengan produsen shale melakukan aktifitas drilling atau DUCs, ke dalam produksi.

Pada minggu mendatang, para nasabah akan mengamati hasil pertemuan OPEC dengan tanda-tanda lebih banyak produksi dari Arab Saudi dan Iran dalam persaingan mereka untuk merebut pangsa pasar.

Pada hari Senin, pasar AS libur memperingati Memorial Day.

http://vibiznews.com/2016/05/30/harga-minyak-mentah-tinggalkan-50-mingguan-naik-3-persen/