SGB LAMPUNG – Harga minyak mentah ditutup pada sesi terendah pada akhir perdagangan Senin tertekan kekuatiran perkembangan ekonomi global.

Pada hari Senin, Bank Sentral Eropa mengatakan penurunan harga minyak selama dua tahun terakhir akan menambah lebih sedikit untuk pertumbuhan global dari perkiraan sebelumnya dan bahkan bisa negatif.

Ada juga kekhawatiran tentang goyahnya pertumbuhan di Tiongkok, sebagian besar karena kelebihan kapasitas industri dan lonjakan utang. Tetapi beberapa analis memperkirakan permintaan minyak di Asia dan khususnya Tiongkok tetap kuat.

Kekhawatiran bahwa Inggris akan memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, menekan bursa global yang berakhir negatif pada hari Senin, dan ini bisa menghapus kenaikan minyak baru-baru ini, kata para pedagang.

Harga minyak mentah berjanghka AS berakhir 19 sen lebih rendah, atau 0,4 persen, pada $ 48,88 per barel, setelah sebelumnya jatuh ke $ 48,16.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka Brent turun 24 sen pada $ 50,30 per barel, setelah mencapai sesi rendah $ 49,61.

Sekalipun reli dolar terhenti, prospek ekonomi yang suram di Eropa dan Asia membebani minyak mentah berjangka.

Pelemahan minyak datang seminggu setelah harga minyak mentah mencapai tertinggi 2016 di belakang rebalancing lebih cepat dari yang diperkirakan di pasar minyak fisik.

Minyak mentah berjangka sempat menguat kembali saat reli dolar terhenti pada perdagangan pagi.

Namun, dolar telah meningkat sekitar 1,4 persen dari posisi terendah bulan Juni, terangkat oleh kekhawatiran Brexit, kekhawatiran atas ekonomi Asia dan prospek kenaikan potensial suku bunga AS. Kekuatan dolar membuat impor bahan bakar untuk negara-negara yang menggunakan mata uang lain yang lebih mahal.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dalam laporan bulanan mengatakan produksinya turun 100.000 barel per hari (bph) pada Mei dipimpin oleh penurunan produksi di Nigeria. Laporan OPEC menunjuk ke defisit pasokan 160.000 barel per hari pada semester kedua 2016 jika kelompok terus memompa pada tingkat Mei.

Dua minggu berturut kenaikan jumlah kilang di AS meningkatkan kegelisahan di industri tentang produksi yang lebih tinggi, yang bisa menunda rebalancing global yang sedang berlangsung di pasar minyak mentah.

Pedagang minyak telah menjual habis posisi panjang yang telah mendapat keuntungan dari hampir dua kali lipat harga minyak mentah sejak mencapai lebih dari terendah dekade awal tahun ini.

Namun, lanjutan pemadaman pasokan yang didukung harga membuat beberapa kekhawatiran di teluk. Pada hari Senin, Delta Niger Avengers, sebuah kelompok militan yang mengklaim sebagian besar serangan terhadap infrastruktur minyak negara itu selama beberapa bulan terakhir, menolak untuk segera berkomitmen untuk pembicaraan damai.

“Dengan latar belakang harga minyak internasional yang rendah, permintaan minyak mentah Tiongkok akan tetap kuat tahun ini karena permintaan terus mendapatkan dorongan dari penimbunan kegiatan dan penggunaan penyulingan,” kata konsultan energi FGE. “Kami perkirakan impor minyak mentah Tiongkok tumbuh 730,000-760,00 bph tahun ini,” katanya.

Harga minyak mentah berpotensi bergerak turun dengan sentimen kekuatiran ekonomi global dan Brexit juga pelemahan dollar AS jika berlanjut. Harga akan menembus kisaran Support $ 48,40- $ 47,90, dan jika harga naik akan menembus kisaran Resistance $ 49,40 – $ 49,90.

http://vibiznews.com/2016/06/14/harga-minyak-mentah-turun-tertekan-kekuatiran-ekonomi-global/