SGB LAMPUNG – Perusahaan pembiayaan infrastruktur di Indonesia, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) melakukan penawaran umum obligasi I Indonesia Infrastructure Finance tahun 2016. Dalam aksi ini, perseroan mengincar dana segar sebesar Rp2 triliun.

Presiden Direktur Indonesia Infrastructure Finance, Arisudono Soerono menyebutkan dana dari hasil penawaran obligasi setelah dikurangi biaya-biaya emisi, seluruhnya akan digunakan perseroan untuk kegiatan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur.

“Perusahaan hanya fokus ketiga sektor yaitu telekomunikasi, ketenagalistrikan dan jalan tol. Proyek-proyek infrastruktur di Indonesia kita mendanai delapan sektor, paling banyak telekomunikasi 30 persen, tenaga listrik 20 persen dan jalan tol 12 persen,” katanya di Jakarta, 8 Juni 2016.

Dalam aksi ini, bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi yakni PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Buckers Securities dan PT Indo Premier Securities. Obligasi ini memperoleh pemeringkatan efek AAA (triple A) dari PT Fitch Ratings Indonesia (Fitch) dan dari PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo) idAAA (triple A).
Adapun, masa penawaran awal (book building) dilaksanakan mulai 8 Juni 2016 hingga 17 Juni 2016. Dan, masa penawaran umum 1 Juli 2016 hingga 14 Juli 2016. Diperkirakan, pada 20 Juli 2016 Obligasi perseroan sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selain itu, Ari juga mengungkapkan, perseroan berhasil menyalurkan pembiayaan sebanyak Rp6 triliun hingga Mei lalu dan ditargetkan mencapai Rp10 triliun akhir 2016. Proyek yang dibiayai tersebar di delapan sektor yakni transportasi, jalan, pengairan, air minum, air limbah, telekomunikasi dan informatika, ketenagalistrikan serta minyak dan gas.

Dia menjelaskan, untuk sektor telekomunikasi, perusahaan memberikan pembiayaan ke proyek Palapa Ring Tengah. Sementara pendanaan di bidang pembangkit listrik ada tersebar di Sumatera, Gorontalo dan Batam. “Pembangkit listrik di Sumatera, Gorontalo kemudian ada di Batam. Paling besar 180 mega watt (MW) di Sumatera Utara. Ada beberapa proyek lain, tapi kami terikat perjanjian, enggak bisa diutarakan semua,” tuturnya.

Disamping itu, Ari juga mengatakan, perseroan masih memiliki beberapa pinjaman yang sudah ada. “Rinciannya, pinjaman sebesar US$200 juta dari World Bank, dan ADB dengan skema two step loan yakni mereka memberikan dananya ke pemerintah. Kemudian diberikan lagi ke SMI selaku induk usaha dan terakhir sampai ke kas perusahaan,” ujarnya.
Selanjutnya, ada juga pinjaman US$250 juta dari sindikasi 16 bank dengan dipimpin IFC, Deutsche Bank dan Standar Chartered. Jangka waktunya lima dan tujuh tahun.

Selain itu, sebesar US$150 juta dari sindikasi delapan bank dengan dipimpin IFC dan ANZ dengan jangka waktu tiga dan lima tahun. Terakhir, ada dari Bank Mandiri senilai Rp1 triliun. “Kita ada pinjaman Bank Mandiri Rp1 triliun,” tuturnya.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/782571-indonesia-infrastructure-finance-incar-dana-segar-rp2-t