Dolar AS mundur mengambil napas pada Jumat (21/11) pagi ini meskipun gairah pasar terhadap mata uang AS tersebut masih bullish akibat cerahnya laporan-laporan ekonomi AS. Penyebabnya adalah Dolar yang terus melaju pesat terhadap Yen sehingga mengundang aksi ambil untung. Dolar menghuni posisi 118.21 Yen setelah memuncaki posisi 118.96, level tertinggi tujuh tahun. Sedangkan Euro lepas ke posisi 148.17 dari puncak di kisaran 149.12.

dolar_nyala
Semenjak Bank Sentral Jepang (BOJ) membuat keputusan mengejutkan untuk menambah stimulus beberapa waktu lalu, Yen terus melemah terhadap Dolar AS. Dolar AS hanya mengendur karena koreksi ataupun karena saatnya konsolidasi.

CPI, Klaim Pengangguran, dan Phily Factory AS

Selain itu, di sesi perdagangan Amerika malam tadi, serangkaian laporan ekonomi dari AS diumumkan. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS, di luar bahan bakar dan makanan, mengalami kenaikan lebih dari ekspektasi pada bulan Oktober. Jatuhnya biaya energi membuat kenaikan harga pada barang-barang dan jasa sulit tercapai.

Statistik Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan, CPI naik 0.2 persen dari 0.1 persen pada bulan September. Inflasi inti, yang tidak termasuk makanan dan komponen energi, mengalami kenaikan sebanyak 0.2 persen bulan Oktober sehingga mendorong naik tingkat inflasi tahunan ke posisi 1.8 persen.

Grafik Inflasi AS

Selain inflasi, pendahuluan klaim pengangguran AS juga diumumkan mengalami penurunan sebanyak 2,000 menjadi posisi 291,000 dalam pekan yang berakhir pada tanggal 15 November. Namun, angka tersebut masih lebih banyak dibandingkan dengan perkiraan para ekonom yaitu penurunan klaim pengangguran AS hingga 286,000.

Laporan lain yaitu, mantapnya indeks pabrikan di wilayah Philadephia (Philly Factory) AS. The Fed Philadelphia melaporkan indeks manufaktur wilayahnya melesat dari 20.7 pada bulan Oktober menajdi 40.8 pada bulan ini. Padahal ekspektasinya akan mengalami penurunan. Alhasil Dolar AS pun kembali mendominasi sesi perdagangan malam tadi.

baca Disclaimer