Ramli masuk restoran mewah dan memesan lengkap dari teh hangat, appetizer, dessert dan bandrek temulawak hangat. Teh datang, tapi Ramli kaget melihat jempol kanan si pelayan masuk ke tehnya.

Ramli berpikir, “Wah gila, tapi nggak sengaja kali.” Dengan tenang dihirupnya, tiga menit kemudian sup jamurnya diantar. Astaga, jempolnya juga masuk! Walau sudah kesal, tapi ini kan restoran mewah jadi nggak bisa marah sembarangan seperti di warteg langganannya.

“Sabar Mas,” pikirnya dalam hati Ramli. Sesudah sup diangkat mangkoknya, datanglah spaghetti. “Brengsek, jempolnya masuk juga. Wah, ini sudah kelewatan.” Tapi karena lapar, ditahannya amarahnya dengan niat nanti mau memanggil manager restoran.

Setelah makan spaghetti dia mulai mencari sang manager. Habis spaghetti, dinantikannya bandrek dan…

“Sialan ini pelayan. Jempolnya ikut juga masuk ke bandrek hangat.”

Naik pitam Ramli teriak keras “Eh, manager sini!”

Manager datang, “Ada apa Pak?”

“Itu anak buahmu gila. Masa jempol tangan kanannya masuk ke semua makanan dan minuman yang kupesan!”

Dengan terkejut manager bertanya, “Ah masa pak? Bardi sini, apa benar jempolmu kamu masukkan ke pesanan tamu?”

Bardi menjawab, “Ya, Pak!”

Marahlah manager, “Edan kamu, kenapa begitu? Kan kamu sudah diajari nggak boleh!”

Bardi menjawab, “Jempol saya keseleo pak, kata dokter harus terus dihangatkan, makanan kan hangat, jadi saya taruh saja di situ.”

Mendengar itu, marahlah Ramli, “Kurang ajar kamu, mau hangat ya? Kalau mau hangat saya ajari, masukkan tuh jempolmu ke lubang pantat, hangatkan di situ!”

Bardi menjawab tenang, “Iya pak, saya tahu, kalau lagi menunggu makanan di dapur, biasanya saya masukkan jempolnya di situ dulu..”