Motor Boleh Masuk Tol Bisakah Mengurai Kemacetan? – Solid Berjangka

SOLID BERJANGKA LAMPUNG – Motor masuk tol menjadi isu yang berkembang saat ini. Wacana tersebut mungkin bisa membawa dampak baik terhadap komuter seperti Suryadi. Bagi pegawai sebuah perusahaan swasta di bilangan Sunter ini, perjalanan dari rumahnya menuju kantor memakan waktu lebih dari satu jam.

Dari rumahnya di Kampung Rambutan, ia harus melewati Kramat Jati yang terkenal padat menuju Cawang dan terus menyusuri By Pass (Jalan DI Panjaitan dan Jalan Ahmad Yani) hingga Sunter yang berjarak sekitar 30 kilometer.

Secara matematis bila mengendarai sepeda motor dalam lalu lintas lancar di jalan raya dengan kecepatan 40 km/jam, Suryadi bisa menempuhnya dalam waktu 45 menit saja. Tapi itu mustahil terjadi di hari kerja. “Susah kurang dari satu jam, jalurnya padat, terutama di Kramat Jati,” ujar Suryadi.

Secercah asa mencuat tatkala Ketua DPR Bambang Soesatyo melontarkan wacana motor masuk tol. Tampaknya ini jadi sebuah solusi untuk Suryadi dan pengendara sepeda motor lainnya. Apalagi rumah Suryadi dekat dengan jalan tol Jagorawi.

Menurut Bamsoet, panggilan akrab Bambang Soesatyo, ide motor masuk tol itu sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005, tentang Jalan Tol yang disahkan oleh Presiden Keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Menurutnya, salah satu manfaat dari sepeda motor masuk ke jalan tol adalah mengurangi tingkat kecelakaan. Di Indonesia sendiri sudah ada dua jalan tol yang boleh dilewati oleh sepeda motor, yaitu Suramadu dan Bali. Jaraknya pun terbilang pendek, yaitu 3 km untuk Suramadu dan 12 km untuk tol di Bali.

Tentu demi alasan keselamatan, sepeda motor memiliki jalurnya sendiri. Sepeda motor melintasi jalan tol sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan di Malaysia, pengguna sepeda motor bisa menggunakan jalan tol tanpa dikenakan biaya. Di jalan tol pun diberikan jalur khusus sepeda motor, dan di beberapa ruas jalan tol dibiarkan bergabung dengan kendaraan lainnya.

Faisal Asri, pembalap asal Malaysia, mengungkapkan jalan tol di Malaysia bersahabat untuk pengguna sepeda motor. “Jalan tol bersahabat karena ada jalur khusus untuk sepeda motor,” ungkapnya. Hanya saja beberapa rute tidak dilengkapi dengan jalur khusus sepeda motor, misalkan Maju Expressway (MEX) yang menghubungkan Kuala Lumpur dengan Putrajaya.

“Ketika saya menggunakan sepeda motor di jalan tol tanpa ada jalur khusus, saya memilih jalur paling kiri atau jalur darurat. Lebih aman,” sambungnya. Meskipun harus berbaur dengan kendaraan seperti mobil berkecepatan tinggi, menggunakan jalan tol merupakan pilihan yang nyaman karena tak harus berhadapan dengan perempatan yang menghambat perjalanan.

Alasan lainnya, jalan tol di Malaysia memiliki banyak rute dan tujuan yang lengkap. Hal senada diungkapkan oleh Andri, mahasiswa asal Indonesia yang pernah menimba ilmu di Negeri Jiran. Andri mengaku pernah menggunakan sepeda motor di jalan tol untuk touring.

“Waktu itu tujuannya dari Penang ke Kedah (jarak 114 km), perjalanan cukup lama. Rest area banyak,” ungkapnya. Malaysia pun bukan satu-satunya negara yang mengizinkan motor masuk tol, bahkan banyak sekali negara yang sudah melakukan hal serupa. Sebut saja India, Jepang, Singapura, Cina, Filipina, dan lain sebagainya.

Namun, apakah mungkin diterapkan di Indonesia?

Berkaca kepada Negara Asia Lainnya

Selain Malaysia, beberapa negara di Asia lainnya memperbolehkan sepeda motor untuk menggunakan jalan tol. Namun tentu dengan berbagai peraturan demi mengutamakan keselamatan sang pengendara dan pengguna jalan lainnya.

Cina

Di daratan utama Cina pengguna sepeda motor bisa mengakses jalan tol. Syaratnya adalah dilarang membawa penumpang dan dapat mempertahankan kecepatan 70 km/jam. Namun di beberapa provinsi, sepeda motor tak bisa mengakses jalan tol. Sementara itu di Hong Kong mengadopsi sistem yang berbeda dengan daratan utama Cina.

Jepang

Hanya sepeda motor dengan kapasitas mesin 125 cc ke atas bisa melaju di jalan tol. Awalnya sepeda motor dilarang membawa penumpang, namun peraturan tersebut diubah pada 1 April 2005. Pengendara motor yang berumur minimal 20 tahun dan memiliki surat izin mengemudi selama 3 tahun bisa membawa penumpang. Namun ada rute yang melarang sepeda motor membawa penumpang kecuali dilengkapi sespan, misalkan saja di Shuto Expressway.

Jalan Tol untuk Sepeda Motor demi Kesetaraan

Wacana sepeda motor masuk tol di Indonesia ini mendapatkan beragam tanggapan. Ada yang pro, dan pastinya tidak sedikit yang kontra. Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi menegaskan, usulan jalur motor di jalan tol masih butuh kajian. Dia menjelaskan berdasarkan PP Nomor 15/2005 tentang Jalan Tol, pasal 38 ayat (1), jalan tol diperuntukkan bagi kendaraan roda empat atau lebih.

Budi menjelaskan, bisa saja jalan tol dilalui sepeda motor, tapi hanya jalan tol yang spesifikasinya sama dengan jembatan Suramadu dan jalan tol di Bali. Sementara itu, untuk jalan tol di daerah perkotaan harus melalui pertimbangan dan kajian terlebih dahulu.

“Jalan tol dapat dilalui sepeda motor, tetapi bukan berarti harus. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan, salah satunya adalah jalan tol adalah bebas hambatan yang kanan kirinya bebas dari permukiman, terjangan angin pun pasti besar, bahkan ada rambu peringatan hati-hati angin besar,” katanya, Rabu 30 Januari 2019.

Budi menilai, kalau ada jalan tol yang dilengkapi dengan jalan tol khusus sepeda motor, mungkin hanya untuk jalan tol perkotaan dan dengan jarak tempuh pendek, bukan jalan tol antar kota atau antar provinsi, seperti di Suramadu hanya tiga kilometer dan di Bali hanya 12 kilometer.

Menurut dia, jarak tempuh lebih dari itu tidak memungkinkan untuk dilalui sepeda motor karena terlalu riskan. “Kita lihat kondisi jalan nasional di Indonesia dengan mixed traffic saja sudah banyak hambatan, kalau tol dibuka untuk sepeda motor, maka kemacetan akan semakin parah dan tidak ada jalur lain untuk perjalanan jarak jauh seperti Jakarta-Cirebon.

Jadi tidak memungkinkan sepeda motor berada di jalan tol jarak jauh, kalaupun dibuat harus ada jalan tol khusus,” jelasnya. Tak jauh berbeda dengan Budi, AVP Corporate Communications Jasa Marga Dwimawan Heru menjelaskan bahwa jalan tol untuk sepeda motor harus punya desain khusus.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 Tentang Jalan Tol. Pasal 1 yang menyebutkan bahwa “Pada jalan tol dapat dilengkapi dengan jalur jalan tol khusus bagi kendaraan bermotor roda dua yang secara fisik terpisah dari jalur jalan tol yang diperuntukkan bagi kendaraan bermotor roda empat atau lebih.”

Pengertian jalur terpisah ini berarti bahwa memang sejak awal kedua jalan tol tersebut memang didesain untuk dapat dilintasi kendaraan bermotor roda dua. Adapun pada ruas-ruas jalan tol yang tidak mempunyai jalur khusus untuk kendaraan roda dua tersebut, jika sepeda motor masuk jalan tol maka akan terjadi mixed traffic, yaitu tercampurnya kendaraan roda dua dengan kendaraan roda empat keatas. “Hal ini berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan, mengingat pada ruas jalan tol tersebut tidak didesain untuk dilewati kendaraan roda dua,” ujar Heru. – SOLID BERJANGKA

sumber : liputan6