PT SOLID GOLD BERJANGKA – Inilah Alasan-alasan mengapa Nabi Muhammad begitu dicintai dan dihormati

PT SOLID GOLD BERJANGKA LAMPUNG – Tidak salahnya kita semua memahami mengapa umat islam menghormati dan mencintai Nabi Muhammad SAW

Seorang raja dengan gaya hidup rakyat jelata
Jika agan pernah menonton serial omar, tentu agan dapat melihat betapa bersahajanya khalifah omar ketika berkuasa. Seperti dikisahkan bahwa seorang utusan romawi terkejut ketika melihat pemimpin kaum muslimin tidur dengan beralaskan tikar dibawah pohon kurma/tempat teduh, tidak ada kemewahan, tidak ada pengawalan, sehingga utusan tersebut tidak mengira bahwa sosok yang ada dihadapannya adalah seorang khalifah.

Lalu bayangkan betapa bersahajanya nabi Muhammad yang menjadi suri tauladan bagi para sahabat terutama umar bin khattab, meski tidak menyandang gelar raja, kedudukan nabi Muhammad adalah selayaknya raja “pemimpin/penguasa” di kalangan para sahabat dan kaum muslimin yang selalu diikuti dan ditaati. Kembali pada film omar, betapa amanahnya umar dalam menyandang status khalifah. Tidak berfoya-foya maupun bergelimang harta, bersikap adil, dan tidak sewenang-wenang dalam memerintah.

Hal ini adalah wajar, karena apa yang diajarkan oleh nabi mengenai kepemimpinan adalah suatu beban/tanggung jawab yang besar yang konsekuensinya adalah antara surga (jika ia memimpin dengan baik) dan neraka (jika ia memimpin dengan buruk). Selain itu dengan kedudukannya Muhammad sebagai panutan, pemimpin sekaligus seorang nabi membuat siapapun penerus nabi tidak berani dan merasa sungkan untuk bertindak menyalahi keteladanan nabi dalam hal memimpin

Totalitas dalam beribadah meskipun sudah dijamin masuk surga
Bahkan dimasa nabi masih hidup sekalipun, tidak ada yang dapat menandingi ibadahnya nabi Muhammad baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Sebuah perumpamaan yang tepat adalah satu-satunya alasan mengapa nabi tidak menunjukan atau melakukan (mencontohkan/mengajarkan) suatu amalan ibadah adalah karena khawatir apa yang dicontohkan oleh nabi akan dianggap sebagai suatu kewajiban (dihukum sebagai ibadah wajib), dan nabi khawatir jika umatnya tidak akan sanggup mengikuti kuantitas dan kualitas ibadahnya nabi Muhammad.

Sebagai gambaran, ketika menjadi imam bacaan surat al quran yang dibaca oleh nabi adalah bacaan panjang yang terdiri dari ratusan ayat, bahkan membaca 2 atau 3 surat panjang sekaligus, seperti al baqoroh, almaidah, dan ali imron, namun dikesempatan lain nabi juga membaca surat yang lebih pendek. Hal ini dilakukan dengan maksud agar para sahabat tidak beranggapan bahwa surat yang harus dibaca dalam sholat adalah surat-surat panjang, namun bisa juga dengan membaca surat-surat yang lebih pendek seperti yang dicontohkan oleh nabi.

Dengan statusnya sebagai nabi dan rosul tentu jelas dijamin masuk surga, namun jaminan tersebut tidak menyurutkan semangat nabi dalam beribadah. Ibadah merupakan bentuk syukur, ketaatan dan ketundukan (kerendahan hati) terhadap tuhan, seperti yang disabdakan “bukan amal ibadah yang membawa seseorang masuk surga, melainkan rahmatNya”. Lalu siapakah dari kita yang merasa sudah beribadah melebihi nabi Muhammad dan merasa paling ahli surga?

Gaya komunikasi yang mencerminkan akhlak mulia
Jika umar bin khattab dapat disamakan dengan nabi musa, maka nabi Muhammad dapat disamakan dengan nabi isa. Mungkin agan sudah mengenal betapa kerasnya umar bin khattab ataupun nabi musa yang berbeda dengan dengan nabi Muhammad (ataupun nabi isa) yang lemah lembut. Namun harus dipahami bahwa kekerasan atau kelembutan tersebut tidak berkorelasi lurus dengan ketegasan atau keplin-planan, keras atau lembut adalah watak, sedangkan ketegasan adalah sifat. Watak nabi yang lemah lembut bukan berarti tidak tegas dan lemah pendirian. Nabi Muhammad sangat tegas dalam memilah antara hak yang batil seperti halnya umar, hanya saja terdapat perbedaan dalam hal gaya penyampaian/gaya komunikasi jika dibandingkan dengan umar/musa yang memiliki watak keras. Seperti diumpamakan/disabdakan oleh nabi, andaikan ada nabi setelah ku (Muhammad), tentu umar lah orangnya. Artinya kriteria sebagai nabi bukanlah watak keras atau lembut, melainkan ketegasannya, sekaligus menunjukan bahwa Muhammad dan umar memiliki tingkat keberanian dan tingkat ketegasan yang sama

Jika agan membaca kisah nabi, pasti akan bertanya kapan dan dimanakah nabi muhammad marah? Sepertinya tidak pernah. Sebetulnya nabi bukannya tidak pernah marah, hanya saja tidak pernah menunjukan (mengekspresikan) amarahnya seperti halnya umar yang meletup-letup, biasanya nabi berdiam diri, mendiamkan, atau pergi meninggalkan untuk menunjukan rasa tidak suka/tidak setuju terhadap suatu hal atau suatu tindakan yang dilakukan para sahabat. Dan para sahabat yang sudah kenal betul watak nabi dengan tanggap menyadari kesalahannya dan segera meminta maaf atau meminta kejelasan (wejangan) kepada nabi. (namun berbeda kasusnya jika ada sahabat yang meminta petunjuk/pendapat, jika nabi mendiamkan itu artinya mensetujui/membenarkan)

Kedermawanan yang total
Nabi Muhammad adalah seorang pengusaha, sejak kecil sudah diajari berdagang, bahkan nabi juga menikahi seorang janda yang kaya, dan sebetulnya keluarga (suku) nabi adalah cukup terpandang dikalangan komunitas mereka. Kesimpulannya nabi adalah orang yang kaya dan cukup terpandang yang bisa saja bergaya hidup mewah atau setidaknya berkecukupan. Namun sama sekali tidak terlihat dari kisah hidup nabi mengenai kemewahan atau bergelimang harta. Nabi selalu digambarkan sebagai sosok yang amat teramat bersahaja yang membuat siapapun bertanya, kemanakah harta-harta tersebut? Mungkin jawabannya adalah pada sifat kedermawanan nabi, yang tidak tanggung-tanggung dalam bersedekah. Seperti dikisahkan, jika ada fakir miskin yang dating kepada nabi meminta sesuatu, maka nabi akan menawarkan apa yang ia miliki (apa yang melekat dibadannya), “ambilah yang kamu suka, tinggalkan yang tidak kamu suka”, maka tidak heran jika tidak ada harta tersisa yang dimiliki nabi, melainkan sudah diberikan/sedekahkan.

Seorang nabi, seorang pemimpin, dan seorang sahabat bagi semua
Apa yang membuat Muhammad begitu istimewa adalah karena ia adalah seorang nabi dan rasul. Tentu ini bukan gelar yang bias dimiliki oleh sembarang orang. Bagi orang yang beriman gelar nabi dan rosul memiliki kedudukan yang sangat mulia mengingat nabi dan rosul adalah kepanjangan tuhan dalam menyampaikan ajarannya.

Ajaran yang dibawa sangat menyentuh hati para penduduk kota mekah, terutama pada kaum muda yang cukup kritis terhadap tradisi/ajaran nenek moyang yang irasional dan tidak logis. Prinsip keadilan yang menempatkan orang yang lemah (miskin/budak) setara dengan orang yang kuat (kaya/merdeka) membuat ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad disambut dengan suka cita oleh para pengikut nabi yang mayoritas kaum lemah. Terjadi guncangan terhadap system social yang berpotensi memecah persatuan dan kerukunan antar suku yang ada, bahkan dapat memecah hubungan antara bapak dan anak, padahal hubungan kekerabatan bagi kalangan qurays (penduduk mekah) adalah suatu hal yang sangat penting/vital. (pada saat itu kondisinya adalah kalangan kepala suku yang diiisi oleh orang tua/bapak menentang dan memusuhi nabi, melawan kalangan anak/pemuda yang mayoritas mendukung nabi)

Nabi Muhammad paham betul akan hal ini, dalam dakwahnya bersikap fleksibel dengan harapan agar kultur kekerabatan di kalangan kaum qurays tidak rusak. Hal itu ditunjukan pada waktu berperang dimana nabi membiarkan/melepaskan para musuh yang lari karena kalah perang. (dimana mereka adalah para keluarga atau saudara yang kelak kemudian akan memeluk islam). Pada perjanjian masa damai (hudaibiyah) nabi Muhammad justru memberikan keuntungan kepada kubu lawan dimana nabi berjanji untuk mengembalikan seseorang kepada keluarganya jika keluarga tersebut tidak mengkehendaki orang tersebut mengikuti nabi. Sedangkan kubu lawan berhak melarang anggota keluarga yang akan ikut nabi. Selain itu nabi juga memperlakukan dengan baik para sandera dan membiarkan keluarganya menebus dengan harga yang fleksibel sesuai kemampuan masing-masing.

Dalam perjalanannya, nabi Muhammad membuktikan bahwa ia bukan sekedar penakluk/penguasa, melainkan sosok visioner yang menyatukan bangsa arab, yang dimulai dengan menyatukan orang-orang disekelilingnya. Terbukti dengan mayoritas orang-orang qurays yang pada awal nya menjadi musuh nabi kemudian beralih haluan menjadi pendukung kuat nabi dan memeluk islam. Dengan begitu maka perpecahan dikalangan mereka (kalangan bapak/tua penentang nabi vs anak/pemuda pendukung nabi) dapat dihindari. Selain itu, meskipun menang perang dan bisa saja menjadi “penguasa” kota mekah, nabi justru menjalani kehidupan yang jauh dari kekuasan, bahkan nabi justru tetap memberikan kekuasaan (kunci) kakbah kepada penguasa lama, yaitu abu sofyan. Tentu hal ini semakin membuat para pemuka dan pemimpin suku bersimpati terhadap ketulusan nabi Muhammad dalam berdakwah sehingga ajaran yang dibawa nabi dapat tersebar dengan cepat dan luas

Dengan berbagai pencapaian diatas, membuat ajaran yang dibawa nabi dapat diterima oleh siapapun, dan dari kalangan apapun. Nabi memperlakukan pengikutnya seperti sahabatnya sendiri, yang memiliki kedudukan yang sama, seperti yang disabdakan, semua orang adalah setara, dan yang membedakan adalah ketakwaannya. Baik dari kalangan rakyat jelata, kalangan penguasa/pemimpin (kepala suku), kalangan lemah, kalangan kuat, kalangan miskin, kalangan kaya, kalangan tua, kalangan muda, dan kalangan yang lainnya, sangat menerima, menghormati, dan menteladani sosok nabi Muhammad. Saking dekatnya para sahabat dengan nabi dalam hubungan personal diibaratkan melebihi hubungan personal dengan saudaranya sendiri

Kecerdasan emosional, kepekaan tingkat tinggi
Salah satu keberhasilan dalam berdakwah adalah kemampuan nabi dalam memahami isi hati dan psikologi orang lain. Masing-masing orang memiliki watak dan sifat yang berbeda, dan tentu saja membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam berdakwah. Hal inilah yang seringkali tidak dimiliki oleh para sahabat yang ada disekeliling nabi. Dikisahkan ada seseorang yang buang air di masjid dan tentu membuat para sahabat menjadi marah. Namun nabi menenangkan para sahabat dan justru menyuruh salah satu sahabat untuk membersihakn kotoran tersebut, lalu mendakwahi sang pelaku yang tentunya dengan “pendekatan” yang berbeda dengan yang dipahami oleh para sahabat.

Pada kesempatan lain dikisahkan, ketika nabi dan para sahabat sedang berbuka puasa, ada seseorang yang kentut dan membuat nabi tidak selera makan, tentu hal ini membuat gusar para sahabat yang ada disekeliling nabi. Para sahabat bermaksud mencari tahu dan menangkap si pelaku dengan menunggu ditempat wudhu (karena kentut membatalkan wudhu). Namun niat/tindakan itu telah diketahui nabi dan nabi justru menyuruh semua para sahabat untuk berwudhu sehingga selamatlah sang pelaku dari rasa malu dan takut.

Tingkat kepekaan yang tinggi juga berkaitan dengan gaya hidup nabi yang bersahaja. Selain hartanya habis untuk disedekahkan, nabi juga selalu berpuasa, dan tidak jarang tidak bersahur melainkan hanya dengan air dan makanan seadanya. Jika agan pernah mendengar kisah umar mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan lapar, maka nabi pun demikian. Sifat dan gaya hidup yang bersahaja yang dilakukan oleh nabi sebetulnya mudah dipahami mengingat betapa banyak pengikut nabi dari kalangan tidak mampu. Sebagai seorang nabi, pemimpin, dan panutan tidak mungkin menunjukan sikap tidak berempati terhadap para pengikutnya, disisi lain para sahabat yang dari golongan “mampu” tentu akan merasa sungkan bergaya hidup melebihi gaya hidupnya nabi muhammad

Amanah dan dapat dipercaya
Jauh sebelum Muhammad diangkat sebagai nabi dan rosul, sedari kecil nabi Muhammad telah dikenal sebagai sosok yang berakhlak mulia,jujur dan dapat dipercaya. Inilah salah satu hikmah mengapa kenabian dberikan di kemudian hari (usia 40). Karena telah dikenal sebagai orang yang amanah sejak kecil, maka kaum qurays kesulitan dalam mengingkari fakta/kebenaran yang disampaikan oleh nabi. Mereka bisa saja mengingkari klaim bahwa Muhammad itu seorang nabi dan mengingkari ajaran yang dibawanya, namun mereka tidak bisa mengingkari klaim bahwa muhammad tidak pernah berbohong. Hal ini, sedikit banyak mempengaruhi keraguan bagi kalangan qurays itu sendiri atas keingkaran mereka terhadap nabi. Hal ini dapat terlihat dari kisah dan percakapan pemuka qurays (abu sofyan) terhadap penguasa rumawi timur ketika abu sufyan ingin mencari dukungan penguasa tersebut untuk melawan nabi

Karena sifat amanah dan akhlak mulia sang nabi telah dikenal sejak lama, maka tidak sulit bagi mereka (kaum qurays) untuk menerima sosok nabi muhammad. Nabi Muhammad bukanlah sosok asing yang datang dari negeri antah berantah, lalu berkhotbah dan membawa ajaran agama islam. Melainkan sosok yang telah lama mereka kenal dengan baik, yang berasal dari lingkungan mereka sendiri. Dan akhlak mulia yang dimiliki oleh nabi bukanlah akhlak mulia dalam rangka menjalankan statusnya sebagai nabi yang bisa saja dibuat-buat untuk mencari simpati pengikutnya. Sehingga siapapun dalam melihat ketulusan dan kelurusan nabi dalam berdakwah

Penutup
Sebetulnya masih banyak yang bias kita teladani dari nabi, hanya saja keterbatasan pengetahuan penulis, sekiranya cukup sekian saja apa yang bias disampaikan. Tulisan ini diambil dari berbagai sumber dan refrensi, mungkin terdapat ketidak akuratan, namun tetap menjaga substansinya. Semoga dengan memahami betapa mulianya sosok nabi Muhammad, membuat kita dapat bersikap adil dan bijak dalam mensikapi sosok nabi yang dihormati, dicintai, dan diteladani oleh milyaran orang dimuka bumi
PT SOLID GOLD BERJANGKA

Sumber : http://goo.gl/nkkbTi