SOLID GOLD BERJANGKA – Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, Anda akan menemukan produk oleh-oleh berupa jajanan manis yang sangat terkenal, Cokelat Monggo. Cokelat dengan citarasa Jawa dan Eropa ini memang diprakarsai oleh orang Swiss, namun nuansa budaya Jawa yang kental dalam produknya membuat banyak orang mengira cokelat ini juga diprakarsai orang Jawa. Harga rata-rata produk cokelat ini rata-rata memang lebih mahal daripada cokelat yang banyak beredar di pasaran, namun mengapa produk ini sangat laris? Berikut beberapa tips bisnis yang bisa Anda tiru dari bisnis cokelat laris ini.

Aroma Lokal: Kunci Kesuksesan Bisnis Cokelat Monggo

Bisnis Cokelat Monggo tidak berpegang pada harga murah semata untuk mempertahankan bisnisnya, karena sejak awal target konsumennya sudah jelas. Selain dikhususkan sebagai barang oleh-oleh yang bersifat eksklusif, Cokelat Monggo juga dipasarkan untuk penggemar cokelat ‘sejati’ yang rata-rata memang kurang menyukai cokelat yang terlalu manis di pasaran.

Banyak orang berpendapat bahwa merk cokelat di pasaran Indonesia rata-rata terlalu banyak gula dan susunya, sehingga mereka yang menggemari rasa cokelat asli merasa kesulitan menemukan cokelat bermutu. Biasanya, sekalipun ada, yang tersedia adalah cokelat impor dengan harga sangat mahal. Tips bisnis Cokelat Monggo adalah menghadirkan alternatif bagi penggemar cokelat karena produknya semua memiliki kandungan cokelat hitam yang kaya, sehingga kalaupun ada bahan lainnya, rasa yang mendominasi tetap cokelat.

Selain itu, pengemasan cokelat yang menggunakan ilustrasi, huruf dan karakter khas Jawa, ditambah dengan penggunaan kertas daur ulang sebagai pembungkus, memberikan kesan lokal, unik dan retro untuk para pembelinya baik pembeli lokal maupun asing. Penggunaan unsur tradisional Jawa sebagai pengemas cokelat bermutu juga belum pernah dilakukan sebelumnya karena cokelat identik dengan produk Eropa. Plus, penggunaan kertas daur ulang sebagai pembungkus juga ikut membantu menekan harga jual sehingga Cokelat Monggo bisa mematok harga lumayan murah dibanding cokelat impor. Ini adalah tips bisnis yang jarang disadari oleh para pengusaha coklat lokal lainnya.

Kemampuan menggali unsur promosi dan tema produk yang belum pernah ada sebelumnya, plus menggunakan bahan cokelat bermutu, merupakan tips bisnis utama yang digunakan oleh produsen Cokelat Monggo. Harus diingat bahwa pangsa pasar yang eksklusif, yaitu mereka yang membayar harga suatu produk demi kualitas, akan selalu ada dan dapat menjadi pasar yang setia walau jumlahnya kecil (misalnya seperti Jam Rolex dan Ferrari).

 

Bahan Lokal, Rasa Eropa

Keunikan lain dari Cokelat Monggo adalah kombinasi rasa yang dipadukan dengan cokelatnya. Memang ada produk yang berupa 100% cokelat, dan ada yang berupa cokelat dengan isian ‘normal’ seperti kacang mede, krim dan kismis. Akan tetapi, demi menarik rasa penasaran pasar serta memberikan produk yang tak biasa, produsen Cokelat Monggo sering bereksperimen dengan berbagai rasa untuk memikat konsumen. Ada cokelat yang berisi kacang tanah, jahe dan buah lokal yang tak lazim ditemui di pasaran Indonesia.

Bahkan, baru-baru ini, Cokelat Monggo bereksperimen dengan membuat cokelat berisi beras pedas, dimana adonan beras diubah menjadi nasi kering lalu diberi bumbu pedas. Produk ini kelihatannya aneh, namun paduan rasanya dengan cokelat gelap ternyata disukai masyarakat. Diversifikasi produk merupakan tips bisnis utama lainnya yang selalu diterapkan Cokelat Monggo. Dengan tetap mempertahankan rasa lama sambil terus mencari rasa baru, produk ini bisa merangkul konsumen lama maupun baru.

Kesimpulannya, jika Anda ingin berbisnis makanan atau camilan yang sukses seperti Cokelat Monggo, silahkan perhitungkan tips bisnis ini: jual kualitas, rajin melakukan inovasi produk, cari ide bisnis yang unik dan tentukan target konsumen dengan baik dan spesifik.